Umum

Dari Firenze ke Jakarta: Kisah Cinta Antarbangsa

Dari Firenze ke Jakarta: Kisah Cinta Antarbangsa

Cinta. Lima huruf yang senantiasa mengundang misteri sejak Adam-Hawa. Ia bisa menjadi sumber energi yang menggerakkan manusia, sumber inspirasi yang menemani manusia berkarya, tetapi juga menyimpan tragedi yang bisa meluluhlantakkan apa dan siapa saja.

Merawat cinta adalah merawat sejarah umat manusia. Menyelamatkan cinta adalah melestarikan peradaban. Hadir tanpa diduga, pergi menebar beribu duka, bahkan darinya dendam bisa menyerta. 

Bila hubungan antarmanusia didasari rasa cinta, ia bisa mengatasi beragam perbedaan yang ada. Sebaliknya bila tiada cinta maka beragam persamaan bisa jadi modal permusuhan. Kembali, keadilan jadi kunci atas eksistensi cinta.

Menimbang Hubungan Indonesia-Malaysia

Dr. Haryatie Abd Rahman, Ewith Bahar, Bundo Free, dan Nuning Purnama (MC)

Dua negara serumpun memiliki akar sejarah yang nyaris sama. Dibentuk oleh tradisi budaya Melayu menjadikan keduanya memiliki beragam persamaan yang memungkinkan bersatu. Tidak saja dekat secara geografis tetapi juga ada asal usul biologis. Itulah kenapa insan sastra budaya kedua negara mestinya bersimbiosis.

Sejarah mencatat, dulu dikenal acara TV Senada Seirama. Dua budaya berpadu menghasilkan keindahan yang begitu bermutu. Indah, penuh warna, menyatukan rasa, dan memiliki kedalaman makna. 

Membangun kebudayaan dua negara

Bahasa Melayu lama berfungsi sebagai lingua franca. Bahasa pergaulan antarbangsa yang membuka pintu saling tegur sapa. Masing-masing memang ada sejumlah karakter pembeda, tetapi dengan kesamaan rasa bahasa, menjadikan hubungan keduanya tak menemukan hambatan. 

Karya sastra, seni budaya, dan ragam bahasa yang lahir dari kedua negara menjadi pintu diplomasi budaya yang tiada bandingannya. Anjangsana budaya lebih mudah dibuka, silaturahmi pun mudah menemukan arti. Batas-batas ideoligis-teritorial keduanya menjadi tipis.

Dr. Haryatie Abd Rahman

Dua tokoh sastra dari dua negara, yakni Dr. Free Hearty (Bundo Free) dan Dr. Haryatie Abd Rahman membincangkan seputar tema itu dalam sesi pertama diskusi Memajukan Kebudayaan Nasional dengan Meningkatkan Persahabatan Indonesia Malaysia hari ini Rabu 10 Mei 2017 di aula Perpustakaan MPR RI. Bertindak sebagai moderator Ewith Bahar, seorang sastrawan dan praktisi televisi.

Moderator, Ewith Bahar

Kebudayaan sering dipandang sebelah mata oleh elite politisi. Ada asumsi bahwa kebudayaan hanya berkutat pada seni tari atau pantun semata. Lupa bahwa ruh suatu bangsa itu sesungguhnya menyembul dalam ujud budaya. Bangsa yang abai budaya sesungguhnya sedang menunggu saat untuk digulung sejarah. 

Apresiasi tentu selayaknya diberikan kepada Perhimpunan Sastrawan Budayawan Negara Serumpun (PSBNS) yang tak lelah merajut kebersamaan negara-negara serumpun dalam beragam kegiatan. Kata kuncinya rasa saling percaya. Dari situlah cinta dan energi bisa dibaktikan dengan lebih mudah dan berfaedah.

Pencarian Cinta Ewith Bahar

Novel karya Ewith Bahar, Dari Firenze ke Jakarta

Sesi kedua dari acara yang digelar PSBNS dan Perpustakaan MPR RI adalah Bincang Buku. Sebuah novel yang ditulis Ewith Bahar “Dari Firenze ke Jakarta” dibahas oleh sastrawan Handoko FZ. Pembahasan fokus pada siapa penulis, bagaimana proses kreatifnya, seperti apa karyanya dan bagaimana respon pembaca. 

Sastrawan Handoko F Zainsam membahas novel Ewith Bahar

Novel ini berkisah tentang perjalanan anak manusia mencari dan menemukan cinta. Ketika cinta tak menyatu (di Italia), terus mencari jalan selama ratusan tahun untuk bisa bersama kembali (di Jakarta).

Bila cinta itu Anda yakini unik, ini bukti literernya. Bila cinta itu universal, inilah jalannya. Bila cinta itu tak pernah mati, inilah jejak dan puingnya.

Ewith Bahar begitu lihai mengajak pembaca untuk menapaki jalan sejarah cinta dalam tamasya penuh romantika. Ketulusan dan keikhlasan dalam bercinta kadang diabaikan orang. Malah sekarang cinta semakin dianggap bukan sesuatu yang sakral dan suci. Itulah kenapa hidup jadi kian kering, gersang, dan hampa.

Tapi Ewith mencoba membuktikan dengan karyanya bahwa orang boleh berganti, zaman bisa berubah, dan tempat bida berpindah, tapi cinta akan menemukan kisah dan pemerannya sendiri. Peradaban mencatat bagaimana kisah cinta seolah terulang kembali. Sebagaimana sejarah mengenal histoire repete, begitu juga kisah cinta. 

Aktualisasi cinta melahirkan beragam cerita. Bila menyangkut anak manusia ia akan penuh romantika. Bila menyangkut dua negara ia akan memberikan banyak guna. Cintalah yang menjadikan kita ada dan mengada. 

Salam Serumpun Sastra

(Wahjudi Djaja-Nuning Purnama)

2 thoughts on “Dari Firenze ke Jakarta: Kisah Cinta Antarbangsa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *